Yahya

Aksi Koboi Pengurus Persipura

In Noken on Minggu, Oktober 5, 2008 at 1:19 am
Ko Atur Pemain Sa Atur Ko

Ko Atur Pemain Sa Atur Ko

AWAL Agustus 2008 lalu, saat Tim Persipura Jayapura menjamu Tim Persijap Jepara di Stadion Mandala Jayapura, terjadi peristiwa yang sangat menghebohkan, memalukan, dan sekaligus mencoreng wajah persepakbolaan Papua, dan juga Indonesia.

Hari itu, sementara pertandingan sedang berlangsung dan kedudukan kemenangan sementara Persijap Jepara 1 dan Persipura NOL! Keadaan ini membuat para pengurus Persipura yang sedang duduk nonton pun mulai panik dan mulai mengatur Pelatih Persipura Raja Isa, yang sedang sibuk mengontrol pertandingan pemainnya di lapangan.

Tiba-tiba dari hal yang tidak jelas, kemudian timbul salah pengertian dan rasa ketersinggungan, sebanyak tiga orang pengurus puncak Persipura entah siapa yang memulai rame-rame keroyok Pelatih Persipura Raja Isa di pinggir lapangan. Banyak mata di Stadion melihat tiga orang yang keroyok, tapi kemudian dibantah hanya seorang yang keroyok. Dan dia sudah dipecat dari kepanitiaan dan denda Rp 150 juta.

Peristiwa itu sontak menimbulkan rasa marah dari pemain dan penonton di lapangan saling kejar, dan hujan batupun tak terelakkan. Pertandingan dihentikan sementara menenangkan situasi, kemudian dilanjutkan sampai selesai dengan kedudukan 1:1 untuk Persipura dan Persijap Jepara.

Diakhir pertandingan, tak satupun pengurus Persipura terutama para pengeroyok bisa berani meninggalkan Stadion Mandala. Karena hujan batu masih terus mengalir ke arah tempat mereka berlindung. Para suporter Persipura Mania bersama penonton jaga diluar stadion awasi para pelaku aksi di lapangan.

Aksi pengeroyokan itu menandakan orang-orang yang duduk di pengurus olahraga terutama sepakbola itu tidak tahu aturan sepak bola. Memang pantas aksi kesewenangan itu bisa terjadi karena mereka, orang-orang yang tidak tahu sepakbola yang jadi pengurus organisasi sepakbola. Jadi bisa dipahami bagaimana perilaku mereka mengurus sepak bola.

Setiap bagian dalam organisasi sepak bola secara utuh memiliki aturan dan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Contoh, pemilik klub sepakbola yang keluarkan uangnya sendiri dari sakunya untuk memberi makan klub saja tidak punya hak apapun mengurus pemain yang ada di dalam lapangan, termasuk memerintah pelatih gonta-ganti pemain. Walaupun ada pemain favoritnya di situ.

Saat pertandingan pemilik klub dan pengurus klub hanya boleh datang duduk manis di tribun VIP menikmati pertandingan. Sementara yang boleh berada di sekitar lapangan adalah pemain pengganti, official, pelatih dan asisten pelatih, pemain dan wasit. Otoritas penuh di wilayah lapangan adalah pelatih, dan otoritas tertinggi selama pertandingan di dalam lapangan adalah wasit.

Lebih dari itu, siapapun dia tidak punya hak dan otoritas sedikitpun. Mereka yang lain hanya datang menonton pertandingan. Tapi ini lain dengan aturan Pengurus Persipura. Kekuasaan, penguasaan, memerintah dan kesewenangan dalam birokrasi diterapkan dalam mengatur sepak bola di lapangan?

Aksi pengeroyokan terhadap Pelatih Persipura Jayapura, Raja Isa oleh trio Pengurus Persipura adalah hal yang sangat memalukan, jijik dan perilaku pengurus organisasi seperti itu tidak pernah terjadi di manapun di dunia ini. Aksi Trio petinggi Persipura itu merupakan yang pertama dalam sejarah persepakbolaan di dunia.

Kalau aksi itu dilakukan oleh para penonton atau fans klub Presipura itu bisa dipahami. Tapi coba pikir, ini dilakukan oleh para pejabat teras dalam pemerintahan Kota Jayapura, yang juga menjadi pengurus teras dalam organisasi Persipura.

Dimanapun, apakah permainan politik atau pertandingan olahraga ada yang menang dan kalah. Itu hal yang lumrah dan tidak akan pernah diubah. Hanya orang-orang yang tidak punya otak yang selalu lawan kondisi normal itu, akhirnya menimbulkan situasi kekacauan dalam kehidupan masyarakat.

Apa yang terjadi di Stadion Mandala adalah wajah perilaku pengurus sepakbola Indonesia. Klub-klub organisasi sepak bola di negara-negara maju bisa maju dan modern karena diurus oleh para mantan pemain sepakbola. Sementara di Indonesia, termasuk Persipura diurus oleh orang-orang yang tidak tahu bola. Sehingga sepakbola Indonesia begitu saja.
Tidak mungkin mendekati jejak perkembangan sepakbola Afrika. Ini seperti bumi dan langit. Pengurus sepakbola Indonesia masih berkutat dengan kebutuhan dasar, sementara di Afrika pengurus sepakbolanya berkutat persoalan jangka panjang.

Negara-negara Benua Afrika hidup dalam kondisi miskin, korup, setiap hari perang dan para pemimpinnya memerintah rakyatnya dengan tangan besi, tapi soal prestasi sepakbola dunia jangan ditanya. Sebagian besar pemain sepakbola Afrika merajai liga-liga dunia. Mereka dibeli dan dikontrak dengan harga ratusan miliyar rupiah. Sementara Indonesia? Hanya baru bisa mimpi (BBM).

Mungkin sebagai rasa tutup malu atas aksi pengeroyokan terhadap Raja Isa yang selama ini melatih Persipura dengan prestasi yang sedang berada dipuncaknya, dipecat dengan alasan sedikit menggunakan kelemahannya. Ini mungkin harga mahal yang harus dibayar untuk sepakbola Papua dalam jangka panjang. Tidak hanya itu, para koordinator Persipura Maniapun menjadi tersangka pencemaran nama baik atas slogan-slogan mereka menghibur pemain dan penonton selama pertandingan.

Dampak tutup malu dan pemulihan nama baik atas aksi para pejabat itu sendiri tidak hanya mempolisikan suporter dan memecat pelatih Persipura Raja Isa. Tapi kabar menakutkan pun menyebar dikalangan media massa. “Barang siapa memberitakan peristiwa aksi itu dengan menyebut nama salah satu pengeroyok maka akan dipidanakan dengan tuduhan pencemaran nama baik.” Beginilah rupa pejabat kita yang hanya hidup menakuti warga dengan kekuasaannya. Makanya, jadi pejabat dan tidak mau kelakuan buruknya dikritik rakyat, tidak usah too jadi pejabat?

  1. persipura kami siap dukung…..!!!!

    namun…..

    pengurus dan kru-nya perlu lebih profesional lagi. mengingat dana yang seharusnya menjadi hak rakyat dan telah digunakan akan menjadi sia-sia.

    lebih baik bagi-bagi ke mama-mama di kampung dan di pasar-pasar saja.

    tapi kalo memang APBD layak untuk persipura.

    persipura harus lebih profesional lagi. baik dari sudut performa di lapangan maupun manajemen.

    MAJU TERUS PERSIPURA………!!!!!

    KO BRANGKAAAAAT………….!!!!!!

    salam dari Dano

    Manokwari

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.