Dilaporkan oleh: Parjoko Midjan
Sumber: www.menkokesra.go.id
Juni 2008 – Deputi Menko Kesra Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP) Papua, dan Bagian Pemberdayaan Perempuan Pemkab. Jayawijaya, pada tanggal 23 Juni 2008 mengadakan rapat koordinasi membahas kebijakan “Peningkatan Usaha Ekonomi Keluarga” dan kegiatan ”Pelatihan Kepemimpinan untuk Isteri-isteri Kepala Kampung” di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.
Fungsi menjembatani (bridging), memfasilitasi (facilitating) dan menguatkan (strengthening) agar koordinasi antar komponen good governance: pemerintah, swasta dan masyarakat di pedesaan dapat berjalan dengan sinergis, perlu segera dilakukan melalui pembentukan demplot sosial di pedesaan Papua, agar secara nyata dapat memberikan gambaran realisitis bagi pembelajaran masyarakat. ”Seeing is believing”.
Demplot sosial tersebut sangat diperlukan sekarang ini di Papua, mengingat peran dan kedudukan perempuan Papua yang secara sosial dan adat istiadat masih berada pada posisi yang masih belum setara dengan laki-laki. Selain berperan sebagai Ibu Papua yang berarti harus sehat dan cerdas agar mampu melahirkan anak yang sehat dan cerdas pula, perempuan Papua dilain pihak juga harus berperan sekaligus sebagai pekerja keras dalam rangka menunjang kehidupan rumah tangga. Hak-hak perempuan Papua sekarang ini masih belum sepenuhnya terpenuhi dan terlindungi, karena masih sering terjadi kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dengan perempuan dan anak sebagai korbannya.
Demplot sosial pemberdayaan perempuan ini juga dimaksudkan untuk memperkaya model Inkubator Pembangunan Kesejahteraan Rakyat yang dikembangkan oleh Menko Kesra di wilayah Pegunungan Tengah Papua.
Model kaji tindak (action research) yang diaplikasikan, mengacu kepada model Pembangunan Manusia Indonesia melalui Pemberdayaan Perempuan yang pernah dilaksanakan di Desa Sifaniha dan Taensala, Kab. Timor Tengah Utara, Provinsi NTT. Untuk Papua, model akan disesuaikan melalui pemberian sentuhan sosial budaya yang lebih intens, mengacu kepada adat istiadat dan perikehidupan masyarakat Papua.
Perempuan di 6 kampung (desa) di Kab. Jayawijaya, dipilih lima orang termasuk isteri kepala kampung untuk mendapat pelatihan kepemimpinan dari BPP Papua, yang selanjutnya melalui pendampingan dari Fasilitator Program RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) Pemprov Papua, menginisisasi pembentukan kelompok ibu-ibu merintis Gerakan Sayang Ibu di kampungnya masing-masing. Kelompok ini akan difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam bentuk pelatihan dan inisiasi usaha ekonomi keluarga melalui aplikasi teknologi tepat pengolahan tepung ubi dan keladi yang banyak diproduksi di Wamena. Dengan pengolahan ini diharapkan ada nilai tambah yang dapat diperoleh bagi usaha kelompok ibu-ibu, selain dapat memperkuat ketahanan pangan karena tepung ubi dan keladi relatif mempunyai daya simpan yang lebih baik di samping dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bermanfaat bagi asupan gizi anak-anak Papua.