Yahya

Menulis demi Kebebasan dan Solidaritas

In Uncategorized on Kamis, November 20, 2008 at 9:00 pm
Pastor Neles Tebay

Neles Tebay

Dua buku diluncurkan Selasa, 7 dan Rabu, 8 Oktober. Yang pertama tentang Persipura, yang kedua mengenai masalah Papua dan peluang penyelesaiannya.

MENULIS, tak lain, bagian dari “ingatan melawan lupa,” kata Frits Ramandey via orasi tertulisnya dalam peluncuran buku Persipura Mutiara Hitam, Sepakbola dari Negeri Cenderawasih (Lembaga Studi Pers dan Otonomi Khusus Papua/LSP Otsus Papua, 2008)-sebenarnya kata-kata ini disitir dari penulis Milan Kundera.
Melaluinya hendak disadarkan, ingatan kolektif masyarakat sangat rentan untuk dimanipulir dan dipolitisir (politik ingatan). Merujuk buku The Politics of Memory (1998) dan Ingatan Kolektif dan Rekonsiliasi (2004), Frits berujar, negara yang diperintah seorang diktator, secara sistematis biasa menentukan apa-apa saja yang boleh dikenang, diingat dan diperingati oleh rakyatnya. Di sini, hanya ada tafsir tunggal terhadap masa lalu.

Politik ingatan ini terus berlanjut melalui upaya-upaya penguasa mengelabui dan memalsukan ingatan kolektif masyarakat. Caranya? Dengan menghilangkan bagian-bagian tertentu, merekayasa fakta-fakta baru, membesar-besarkan kepahlawanan etnik dan golongan tertentu, melakukan konteks ulang dan menihilkan para musuh.
Ingatan kolektif yang palsu atau distorsif ini dilestarikan dan ditransformasikan kepada generasi berikut melalui media, seperti kesenian, film, buku, sejarah dan ritual peringatan. Bahkan olahraga pun bisa diatur kemenangannya demi dan atas nama kepentingan lain. (Misalnya, sepakbola “Pancasila”: main tidak boleh keras, atur skor imbang?).
Setelah kejatuhan rezim otoriter Orde Baru, Indonesia masa kini kencang menggaungkan wacana demokrasi. Reformasi di berbagai bidang pemerintahan diprogramkan, kelonggaran berekspresi masyarakat sipil ditolerir, media massa diberikan keleluasaan menulis. Wajah otoritarian masa lalu tampak ditinggalkan. Namun, tak ada jaminan tentang keberlanjutan kondisi ini. Apalagi menyangkut konteks Papua yang sudah tercabik kedaulatan dan identitasnya.
Merujuk buku Mengadili Demokrasi Damai Rakyat Papua, Frits menyatakan, perjuangan melawan lupa dan membendung politisasi ingatan harus terus diupayakan. Perlawanan terhadapnya hanya dapat ditumbuhkan dalam diri kaum muda melalui kisah tentang negeri mereka. Dengan mengetahui, bukan mengabaikan; dengan mengingat, bukan melupakan.
Sejarah adalah untuk diabadikan, sebab ia mengabarkan atau mengalihkan masa lampau kepada mereka yang menghormatinya dan belajar demi perbaikan dan kedewasaan. Pengertian baik dan buruk, suci dan najis bertolak dari wawasan kultural, dari keyakinan. Kebaikan, kepatutan dan kelayakan seseorang atau sekelompok orang bagi komunitas kultural tertentu adalah mereka yang telah tersaring dan memenuhi ritual bagi penghargaan identitas.
Tidak mudah memang menata kembali peradaban dari bangsa yang sudah teresapi kultur kekuasaan, mudah mencabik kultur kemanusiaan. Dan jika jalan lain sudah pupus, mungkin seni dapat memulainya.

Benedict Anderson dalam bukunya yang tenar dan klasik Immagined Communities (Komunitas-Komunitas Terbayang) mengatakan, sesungguhnya apa yang kemudian disebut sebagai bangsa saat ini, tak lain dari, komunitas-komunitas yang dibayangkan. Dari mana datangnya komunitas yang dimaksud? Ia digelorakan oleh media cetak (baca: tulisan) yang berawal dari apa yang disebut kapitalime-cetak (printed-capitalism). Yakni, ketika tulisan mulai dicetak massal dan disebarluaskan (diperdagangkan) berkat penemuan teknologi cetak. Melaluinya, orang bisa saling mengenal, saling mendukung, saling berempati tanpa bertatap muka.
Mengutip Benny Giay-yang menggunakan bahasa yang agak berbeda-Frits mengatakan, meluasnya pembayangan lewat jangkauan media massa, akhirnya mencitrakan kesatuan berbagai komunitas yang memungkinan interaksi tak langsung antara mereka sendiri. Karena itu, kata antropolog ini, persoalan Papua harus digarap melalui tulisan. “Kalau menyanyi itu untuk hidup, maka menulis itu demi kebebasan tanah dan negeri,” kata Frits.
Maknanya? Tulisan punya dampak yang luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Siapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia, karena dengannya, ia dapat mengontrol pikiran dan tindakan orang lain. Kapan saja, di mana saja.
Buku Persipura Mutiara Hitam (karya Frits Ramandey dan Dominggus Mampioper) yang diluncurkan di Hotel Axton, Polimak pada Selasa, 7 Oktober 2008, mengulas secara ringkas klub kebanggaan Papua ini. Antara lain, kapan ia muncul? Siapa peletak dasarnya? Klub-klub apa saja yang mengawalinya? Kapan nama Persipura disandang? Bagaimana profil para bintangnya dan sumbangsih mereka dalam PSSI? Pasang-surut klub ini dalam sejumlah kompetisi belakangan.
***

Buku lain, hasil karya Doktor Neles Tebay, Papua: Its Problems and Possibilities for a Peaceful Solution (Sekretariat Keadilan dan Perdamaian/SKP Keuskupan Jayapura, 2008) dibahas esoknya, Rabu, 8 Oktober 2008. Buku ini merupakan kumpulan berbagai berita dan opini penulis di harian berbahasa Inggris di Jakarta The Jakarta Post selama periode 1999-2008 dalam posisinya sebagai wartawan di media ini.

Pastor lulusan Roma ini menyebutkan di awal peluncuran buku, alasan ia menulis-yang hasilnya akhirnya dibukukan (182 halaman). Ia seorang Papua, tapi juga seorang pastor merangkap jurnalis.
Sebagai seorang Papua, ia ikut merasakan duka-derita yang dirasakan orang Papua. Duka-derita orang Papua itu adalah juga bagian dari persoalan umat manusia di dunia yang menjadi urusan dan keprihatinan seorang pastor. Karena-kebetulan-ia juga jurnalis, menulis menjadi saluran pengungkapan keprihatinannya. Dan dalam jurnalisme, menulis harus singkat, padat, sederhana, jelas sehingga mudah dipahami.
Neles dengan rendah hati mengatakan, sebagian besar tulisannya merupakan pendapat dan pandangan pribadi. Karena itu, ia tidak berpretensi mewakili pihak atau lembaga manapun. Sebagian dari apa yang ditulisnya juga bukan hal yang sama sekali baru. Apalagi temuan kreatifnya. Ia hanya menyampaikan, atau tepatnya, memublikasikan apa yang juga telah dikemukakan atau menjadi pandangan dan aspirasi pihak lain.
Sebagai kumpulan tulisan di media cetak (harian), buku Papua: Its Problems and Possibilities merekam pelbagai persoalan di Papua akibat berbagai kebijakan sewenang dan salah urus pemerintah Jakarta.

Ada masalah seputar Kongres Rakyat Papua II pada Mei 2000, Tuntutan Papua Merdeka, Undang-Undang No. 21 Tahun 2001, Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Perambahan Hutan, Pembentukan Provinsi Baru, Pencanangan Papua Tanah Damai, Tuntutan Dialog Damai dengan pemerintah Indonesia dengan mediator pihak ketiga.
Neles dengan jujur mengakui, sewaktu menulis artikel dan opininya, tidak membayangkan dan meniatkan untuk diterbitkan menjadi buku. Tulisan-tulisan itu merupakan tanggapan dan komentar pribadinya atas situasi sosial-politik di Papua.
Penerbitan tulisan-tulisan itu sebagai buku dipicu usulan dan dorongan rekan-rekan (senior)-nya-ia menyebutkan Doktor Benny Giay. Tulisan-tulisan itu lantas ia kumpulkan dan kategorikan berdasarkan tema dan selanjutnya diterbitkan SKP Jayapura.
Ia memandang bukunya sebagai pancingan bagi orang-orang Papua lainnya untuk juga menulis, terutama dalam bahasa asing. Dengan begitu, persoalan Papua bisa terekspos kepada dunia.
Salah satu pembahas buku, Frans Wospakrik mengatakan, saat ini Papua menghadapi dilema penerapan Undang-Undang No. 21 Tahun 2001. Harapan kepadanya berangsur surut. Mulai muncul keraguan, ia memang tidak bisa menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan di Papua. Cara apa yang akan ditempuh? Memperbaiki undang-undang ini, mencari solusi lain, atau apa?
Ada sikap saling menyalahkan, curiga tanpa dilandasi kejujuran dan kepercayaan antara Papua dan Jakarta dalam penerapan Undang-Undang No. 21.
Akademisi Universitas Cenderawasih, Ibu Toroby, menyampaikan catatan tentang luputnya isu perempuan berkaitan dengan penghancuran hutan. Penulis buku mengakui, bias bisa terjadi tanpa disadari.
Joost W. Mirino

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.