Yahya

Tingkat HIV AIDS di Wamena Makin Tinggi

In Kesehatan on Sabtu, November 22, 2008 at 5:00 pm

Jumlah penderita HIV AIDS di Jayawijaya hingga Mei 2008 lalu 179 orang. Hanya dua orang yang Non Papua. Jumlah ini akan terus bertambah seiring terbatasnya fasilitas kesehatan dan rendahnya pemahaman terhadap bahaya wabah ini.

JUMLAH orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS sebanyak 179
orang, merupakan angka yang sangat menakutkan. Misalnya, kalau ada 10 orang yang datang ke VCT melakukan tes darah, maka dua di antaranya positif terinfeksi HIV AIDS. Penyakit ini dengan mudah menular kemana-mana karena kurangnya fasilitas kesehatan bagi penderita, dan kurangnya akses kesehatan bagi orang dengan HIV AIDS (ODHA).
Kadang ada pula orang di Wamena yang mengetahui dirinya terinfeksi HIV/ AIDS , kemudian pulang kampung dan tidak pernah kembali lagi untuk berobat. Hal ini menyebabkan petugas kesehatan dan LSM yang membidangi HIV/AIDS sulit mengawasi perilaku dan kondisi kesehatan penderita di kampung.

“Biasanya ODHA yang datang ke rumah sakit sudah pada stadium tiga dan empat. Prinsip kami orang di gunung bahwa yang dinyatakan sakit itu orang yang tidak berdaya sama sekali, sehingga kami merasa itu sakit biasa. Mungkin sakit karena guna-guna, atau buatan orang. Nanti dibawa ke rumah sakit dideteksi baru ternyata sakit HIV AIDS, yang sudah pada stadium tiga dan empat. Jadi penanganan sangat sulit. Informasi mengenai HIV AIDS bagi masyarakat juga sangat kurang. Penanganan HIV/AIDS tidak seperti penyakit lain. Harus menyembuhkan dulu penyakit lain baru mengobati HIV/AIDS. Sehingga banyak sekali yang datang hanya untuk meninggal. Fasilitas kesehatan di Wamena juga sangat minim,” jelas Direktur Yayasan Usaha Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Desa Indonesia (Yukemdi), Yoram Yogobi, yang ditemui di Jayapura beberapa waktu lalu.

Penanggulangan HIV/AIDS di Wamena dilakukan oleh YPKM, Yukemdi, gereja, dan KPAD. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Jayawijaya, memayungi seluruh aktivitas penanganan HIV/AIDS. Ada juga yang melakukan pendampingan bagi populasi beresiko tinggi seperti WTS, PSK, PSJ, buruh bangunan, tukang ojek, tukang becak dan ODHA.
Walau jumlah penderita banyak, hingga kini pemerintah setempat belum menyediakan rumah singgah atau tempat khusus bagi ODHA. Sementara ini, ada seorang staf YPKM yang merelakan rumahnya menjadi rumah singgah untuk merawat ODHA. Penderita lainnya dirawat di rumah masing-masing oleh keluarga. “Ini kendala besar karena tempat tinggal mereka jauh dari kota Wamena, sehingga akses untuk dapat bantuan obat dan makanan bergizi sulit. Faktor alam juga turut memperburuk kondisi ODHA. Sedangkan penderita yang tinggal di sekitar kota Wamena mendapat pendampingan dari YPKM dan LSM lain,” kata Yoram.

HIV AIDS bisa menular melalui hubungan seks, jarum suntik, transfusi darah, air susu ibu. Tapi khusus di Papua disebabkan oleh hubungan seksual.

Menurut Yoram, penularan HIV AIDS di Wamena disebabkan karena beberapa faktor: 1) pola hidup remaja sangat bebas; 2) informasi mengenai pornoaksi dan pornografi yang sangat mudah diakses setiap orang, termasuk anak remaja. Hal in memicu mereka melakukan hubungan seksual; 3) faktor ekonomi. Karena tuntutan ekonomi, nona-noa yang masih sekolah dan jauh dari kampung, rela menjual kehormatan mereka; 4) Transaksi seks di Wamena terjadi di warung makan remang-remang. Di warung remang-remang ini juga disediakan layanan seks; 5) Praktek seks jalanan anak-anak setempat. Di tempat-tempat tertentu mereka bisa mejeng, ketemu om-om atau orang-orang yang ingin seks dan melakukan hubungan seks. “Jadi, orang terinveksi HIV/AIDS karena perilaku seks bebas yang cukup tinggi.”

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya hingga kini sulit menertibkan warung remang-remang yang menyediakan layanan seks, Ada juga kesan membiarkan warung remang-remang tetap beroperasi. Penertiban dilakukan jika ada desakan dari masyarakat.

Kesulitan penertiban ini juga karena praktek warung makan terselubung itu di-backingi oknum anggota TNI, polisi dan orang-orang kuat. Mereka ini bekerjasama dengan pengelola warung makan remang-remang. Saat ada rencana penertiban, pelayan seks sudah disembunyikan atau berpura-pura menjadi penjaga toko, pedagang, ibu rumah tangga dan lainnya.
Istilah warung remang-remang mulai terkenal di Wamena tiga tahun belakangan ini. Pemerintah setempat baru sekali melakukan penertiban, kemudian menjamur lagi. Kuatnya backing orang-orang kuat itu membuat LSM dan gereja sulit masuk ke warung remang-remang untuk memberikan penyuluhan HIV/AIDS atau sekedar membagikan kondom. “Kalau LSM ke sana akan ditolak. Kadang kami sebagai anak daerah merasa tersinggung dan bisa berbuat tindakan yang lebih anarkis. Karena kami merasa bahwa di situlah sumber orang bisa mendapatkan penyakit. Walaupun mereka mengatakan tidak, kami tahu jelas-jelas bahwa di situ terjadi transaksi seks, atau kegiatan prostitusi terselubung,” ujar Yoram.

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya baru dua tahun terakhir ini memberikan perhatian terhadap penanganan HIV/AIDS. Yaitu membuat peraturan daerah tentang HIV/AIDS serta mengalokasikan dana penanggulangan pada tahun anggaran 2007 sebesar Rp 700 juta dan tahun anggaran 2008 sebesar Rp. 1 Milyar

Jika LSM dan gereja mau bikin kegiatan soal HIV/AIDS, tinggal mengajukan proposal ke KPAD untuk mendapatkan dana itu.
“Secara pribadi kami tidak ada hubungan dengan pemerintah, tapi secara kelembagaan kami bekerja di bawah payung KPAD milik pemerintah, sehingga bisa mendapat akses dari KPAD. Misalnya, KPAD dapat dana berapa, kami mau bikin kegiatan apa, kami ajukan proposal ke KPAD minta bantuan, mereka kasih dana dan kami bikin kegiatan,” kata Yoram.
Dari letak geografis Kabupaten Jayawijaya, jumlah dana yang dialokasikan untuk penanggungan HIV/ AIDS tidak seimbang. Tapi dengan keterbatasan yang ada, LSM, gereja dan KPAD giat memberikan informasi sesuai kondisi setempat. Penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS dilakukan dengan bahasa daerah yang materinya disesuaikan dengan kondisi sempat dan menjangkau ke pelosok distrik dan kampung.

Yukemdi memiliki delapan staf, termasuk direkturnya. Lembaga ini memfokuskan diri pada pelayanan pemberdayaan ekonomi rakyat, tapi dalam perkembangannya melakukan penyuluhan mengenai HIV/AIDS. Yukemdi memberikan pelayanan sampai ke distrik dan kampung terpencil.
Yukemdi berkantor di Wamena kota khusus untuk penanganan prostitusi, tukang becak, sopir taksi, tukang ojek, dan buruh bangunan. Tapi pelayanan umum Yukemdi bagi masyarakat dilakukan sampai ke distrik-distrik dan kampung-kampung. Sosialisasi mengenai HIV/AIDS di kampung-kampung dan distrik dilakukan Yukemdi dalam berbagai kesempatan seperti saat ibadah, pesta, saat orang berduka atau acara-acara yang dilaksanakan masyarakat.

Yoran optimis berbagai upaya yang sedang dilakukan Yukemdi, YPKM, gereja dan KPAD dalam penanggulangan HIV/AIDS cukup membawa perubahan. Misalnya, dulu orang di Wamena susah bicara kondom, sekarang sudah ada pemahaman bahwa kondom penting untuk melindungi diri dari hubungan seks bebas atau melayani seks tanpa kondom. Ada yang sudah semakin sadar dan datang melakukan tes darah di VCT secara suka rela.

“Sekarang permintaan kondom meningkat. Dulu kami anggap orang pendatang itu tahu segala-galanya, ternyata mereka juga bodoh dalam hal melindungi diri. Kami masuk membina dan akhirnya mereka tertarik dengan kondom. Penyuluhan yang kami lakukan membuat masyarakat sekarang sudah jarang datang ke warung remang-remang untuk melakukan hubungan seks. Karena masyarakat sudah tahu bahwa HIV/AIDS sangat berbahaya yang paling bagi mereka,” jelas Yoram.

Perilaku yang paling sulit ditertibkan adalah hubungan seks bebas di luar warung remang-remang. Seperti penjajah seks jalanan, tukang becak, tukang ojek. Kalau tukang ojek dan becak di jalan ketemu perempuan dikasih naik dan pergi melakukan hubungan seks tanpa pengaman, menyebabkan angka penderita terus bertambah. Masih, ada sebagian kecil orang Papua yang bernada sinis terhadap upaya pemberantasan HIV?AIDS yang dilakukan LSM. Mereka beranggapan, penyakit itu ada diluar, padahal penyakit itu sudah ada di dalam rumah sendiri.

Paskalis Keagop

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.