Distrik Arso Timur baru berusia lima bulan. Infrastruktur dan fasilitas umum lainnya masih sangat terbatas. Tapi distrik yang satu ini hendak menciptakan model pembangunan bagi mentan pelintas batas yang baru lima tahun kembali ke kampungnya di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom.
Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Yosias Wambrauw’
Nyanyian dari Mantan Pelintas Batas di Arso Timur
In Laporan Utama on Sabtu, Oktober 25, 2008 at 7:00 amOtsus di Distrik Senggi
In Laporan Utama on Jumat, Oktober 24, 2008 at 7:00 amOtonomi khusus sudah berlaku di Papua sejak tahun 2001. Kini telah mencapai tujuh tahun. Masih tersisa 18 tahun lagi. Walau demikian, dana yang diperuntukan untuk masyarakat asli Papua itu, tak kunjung dirasakan oleh mereka yang tinggal di kampung-kampung, seperti di Distrik Senggi.
Hati, Telinga, dan Mulut Bagi Kaum Tertindas
In Suara Perempuan on Jumat, Oktober 17, 2008 at 7:00 amKebijakan pembangunan saat ini belum berpihak kepada kaum perempuan. Untuk mendorong adanya perubahan kebijakan yang berpihak kepada kaum marginal, maka perempuan harus dapat mengisi kouta 30 persen di legislatif, baik yang ada di provinsi, kabupaten dan kota. Hal inilah yang diungkapkan Wakil Ketua II MRP, Dra. Hana S. Hikoyabi yang kini diakui sebagai hati, telinga dan mulut bagi kaum tertindas di Papua, termasuk perempuan asli Papua.
Diberondongi Permintaan
In Laporan Utama on Rabu, Oktober 15, 2008 at 12:00 amDi Kabupaten Keerom, gubernur diberondongi sejumlah permintaan warga kampung. Mulai dari penambahan dana Respek, tenaga guru, bidan kampung. Atau keluhan seputar perusahaan kayu PT Rajawali Grup, usulan pencabutan izin penjulalan miuman keras dan pembongkaran bendungan di Tami.
Pesan dari Kampung
In Laporan Utama on Minggu, Oktober 12, 2008 at 12:00 amDana Respek Rp 100 juta dari provinsi dirasakan kurang. Sejumlah kepala kampung di Kabupaten Keerom, minta dinaikkan.
KECEWA. Begitu kata yang terlontar dari kepala kampung dan warga yang hadir ketika Gubernur Papua, Barnabas Suebu, ‘turkam’ di Kampung Waley, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom pada 25 Juli lalu.
Hidup untuk Melayani
In Profil on Sabtu, Oktober 11, 2008 at 12:00 amPOSTUR tubuhnya sedang saja dan langsing. Sopan dan murah senyum adalah kesan yang akan didapati bila bertemu dengan ibu yang satu ini. Dialah Octovina Reba (Bonay), anak dari pasangan Hofni Reba (almarhum) dan Paulina Arobaya.
Ibu Bonay, demikian ia biasa disapa, lahir dan besar di Kampung Dawai pada 15 April 1973. Ia masuk Sekolah Dasar Inpres Dawai. Tamat pada 1986. Lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Serui. Selesai 1989. Bercita-cita menjadi perawat, ia memilih masuk di Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) Jayapura. Lulus pada 1992.
Meresmikan Lapangan Terbang Senggi
In Uncategorized on Jumat, Oktober 10, 2008 at 12:00 amGUBERNUR Papua, Barnabas Suebu, pada Jumat, 25 Juli lalu melakukan kunjungan (‘turkam’) ke Kampung Waley, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom. Ikut dalam rombongan Wakil Ketua II MRP, Kapolda Papua, Wakil Ketua PKK Provinsi Papua dan para SKPD Provinsi Papua. Sementara dari kabupaten, turut hadir bupati Kabupaten Keerom serta seluruh jajarannya.
